Kamis, 26 Juni 2014

Mentari Aku Buram (puisi)

kita bermain dalam pelataran si nenek tua ini.
dan kau putuskan jadi pelacur hati
berkorupsi pada nada gemerlapan
menikam di balik kemerduan mentari yang buram,
memelihara api yang yang tak berawan
menyerang berulang tulang belulang.

saat lembaran kita diganggu masam
tak lagi merasa berkawan dengan warna.
kini hangus dibakar nafsu
dan pondasi itu luntur digusur waktu.

abu....
aku tak tahu.
ibu....
kau tak mau.
malam...
aku tak akan.
madu...
kau tak sempat.
mentari...
aku ragu.
(Nawir Fatsah Pasambuna)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar